Tips Agar Tidak Gulung Tikar di Bawah 5 Tahun Pertama

Seseorang rekan, sebut saja Anto, yang sudah berpindah kuadran dengan membuka usaha sendiri menceritakan dengan mata berbinar dan bersemangat, bahwa keputusan berpindah kuadran-nya ternyata tepat, karena so far hasilnya cukup lumayan, walaupun hasilnya belum sebesar penghasilannya waktu ngantor dulu, prospeknya cukup terang benderang kedepannya serta menjanjikan paparnya bersemangat. “Berarti uang yang terkumpul lumayan dong,” pancing saya. Mendengar pancingan saya, mendadak wajahnya yang ceria berubah sedikit lesu dan muram,” Yah, itulah problemnya, perasaan pembayaran dari klien berjalan lancar, tapi kok cash-flow perusahaanku kok agak tersendat ya?,” jelasnya pelan sambil kepalanya menerawang.

“Lho, kok bisa, memang siapa yang memegang uang di perusahaanmu?,” selidik saya penuh tanda tanya. “Saya sendiri sih,” jawab teman saya datar. Kalau bisnisnya katanya lancar dan kliennya bertambah harusnya tidak ada masalah dengan cash flow perusahaannya, pikir saya sambil mengerenyitkan dahi. “Ok, kalau begitu selama ini biaya untuk rumah tanggamu diambilkan dari mana? Dan, kamu digaji berapa dari usaha ini ?” cecer saya. “Karena ini usaha saya pribadi, apa yang aku dapat sebagian untuk membayar pengeluaran pribadi, sebagian saya putar lagi untuk usaha,” jawabnya. “Kalau untuk urusan gajiku, sebagai single owner, semua pemasukan kan merupakan hak saya, jadi gajiku adalah naik-turun sesuai pemasukan yang ada,” cerocosnya kembali bersemangat. Saya mengangguk penuh arti. “Gimana nih Don…..bisa pinjam duit buat tambah modal gak ?”, tanyanya berharap. Sepertinya teman saya cash flow-nya agak seret, jadi butuh dana segar untuk “menggerakkan” kembali usahanya.

Fenomena di atas, seringkali muncul diantara kita, pindah kuadran, bisnis relatif lancar tetapi tiba-tiba cash flow perusahaan agak tersendat. Apa yang “salah” dari manuver bisnis yang dilakukan teman Anto?

Apa yang dilakukan rekan Anto barangkali acapkali dilakukan juga oleh para “starter” pindah kuadran yang baru-baru mulai usahanya. Karena bisnisnya adalah milik sendiri, merasa “sah” untuk berbuat apa saja di perusahaan. Termasuk urusan “gaji owner” yang semau gue (sesuka hati) sampai pencampur adukkan rekening usaha dengan rekening pribadi. Jadi uang masuk dari klien dianggap ATM pribadi yang bisa seenaknya digesek sesukannya. Sekalipun bisnisnya lancar, kalau praktek itu berjalan terus-menerus, kita bisa menebak apa yang terjadi. Cash flow perusahaan pun berdarah-darah seperti yang dialami rekan Anto. Kalau tidak ada suntikan dana untuk modal kerja, baik dari pinjaman maupun modal sendiri, bisa dipastikan gulung tikar (hari gini, ndak ada pinjaman yang murah lho).

Riset membuktikan, kebanyakan perusahaan baru, lebih dari 70% rata-rata gulung tikar alias rontok sebelum berkembang pada usia di bawah 5 tahun. Penyebabnya beragam, salah satunya adalah tidak disiplin pada dua hal tadi. Jadi bagaimana agar kasus Pak Anto di atas tidak dialami oleh kita, jika kita ingin pindah kuadran ?

Pertama, gajilah diri Anda. Sebagus apapun cash flow perusahaan karena omset perusahaan meningkat, untuk masalah gaji, Anda harus “meniru” orang kantoran. Cuma bedanya, besar kecilnya gaji bukan ditentukan oleh perusahaan, tapi oleh Anda sendiri. Kalau ada keperluan mendadak lebih banyak daripada gaji yang ditentukan Anda sendiri. Pastikan Anda legowo untuk “meminjam” uang dari perusahaan sendiri. Dan dikembalikan kembali ke kas perusahaan, karena itu adalah hutang Anda ke perusahaan. Memang sulit dan ribet….tapi itu adalah salah satu langkah disiplin agar tidak tidak terjungkal seperti Pak Anto.

Kedua, pastikan uang untuk keperluan pribadi dan rumah tangga dan usaha dipisah. Cara paling gampang adalah uang tersebut dipisah dalam dua rekening yang terpisah. Dipisah saja, kalau “godaan” muncul untuk “belanja” tiba-tiba mendera, keinginan untuk “menggesek” kartu ATM perusahaan tetaplah muncul. Untuk itu, saya sarankan untuk rekening perusahaan jangan ada ATM-nya, atau kalau kondisi keuangan memungkinkan menggaji orang untuk menjaga cash flow perusahaan di bagian keuangan. Ini penting, karena tingkat margin serta kinerja perusahaan yang sesungguhnya bisa terukur dengan jelas.

Saya berharap tidak ada lagi cerita “sedih” seperti Pak Anto di atas ketika memulai pindah kuadran. Selamat pindah kuadran untuk Anda yang melakukannya tahun 2010 ini, pastikan usaha yang Anda bangun mampu melewati “angka psikologis” 5 tahun yang menghantui rontoknya sebuah usaha. Selamat bermanuver bisnis !

Sumber: manuverbisnis.wordpress.com

Tentang saepudin

Anda boleh mempublikasikan kembali tulisan di atas pada website atau blog dengan catatan : 1. Anda harus mencantumkan sumber tulisan dengan link aktif menuju https://saepudinonline.wordpress.com 2. Anda tidak mengubah baik sebagian atau pun keseluruhan tulisan TERMASUK SEMUA LINK YANG ADA DI DALAM ARTIKEL harus tetap ada dan aktif. Mari kita saling menghargai sebuah karya... Terima kasih atas kunjungannya. Mohon beri komentar atau saran untuk menyempurnakan website ini. Salam sukses selalu..
Pos ini dipublikasikan di Tips Bisnis, Tips dan Trik dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s