Peran Strategis Pimpinan Lembaga Pendidikan

Dalam  sebuah diskusi  dengan pejabat kementerian  agama di Jakarta beberapa waktu yang lalu, disebutkan tentang peran strategis kepala sekolah dalam memajukan lembaga pendidikan. Dikatakan bahwa kemajuan lembaga pendidikan menurut  hasil pengamatannya selama ini adalah tergantung pada pimpinannya.  Lembaga pendidikan yang dipimpin oleh seorang yang cakap, banyak ide, dan inovatif,  maka akan maju dan demikian pula sebaliknya.

Melengkapi pandangan dalam diskusi   tersebut, saya memberikan pengalaman sederhana, yang saya dapatkan dari memimpin UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, yang sebelumnya lembaga itu bernama  STAIN Malang. Saya mengemukakan bahwa  lembaga pendidikan Islam memiliki konsep yang amat ideal. Bahwa lembaga pendidikan Islam mengajarkan hidup bersih, disiplin, selalu berorientasi pada kualitas, peduli terhadap sesama, berakhlak mulia, dan seterusnya.

Akan tetapi pada tataran yang lebih praktis, dalam kenyataan sehari-hari, lembaga pendidikan Islam pada umumnya,  masih belum  berhasil mewujudkan konsep ideal tersebut. Pada kenyataannya masih banyak  lembaga pendidikan Islam, ——-bahkan pada tingkat perguruan  tinggi sekalipun,  sekedar memelihara kebersihan lingkungan saja tidak tuntas. Mislanya saja, ruang kelas masih belum  terawat, perkantorannya kelihatan tidak ditata rapi, tamannya tidak dipelihara, dan apalagi kamar kecil, selalu kelihatan kotor.

Dalam diskusi itu saya mengemukakan bahwa,  menyusun konsep ideal tentang pendidikan  biasanya  tidak sesulit mengimplementasikannya.  Kebanyakan lembaga pendidikan yang gagal merawat lingkungannya itu,  tidak berarti bahwa mereka  kurang  paham tentang konsep ideal lembaga pendidikan Islam. Mereka paham betul tentang konsep itu. Akan tetapi rupanya mereka tidak mampu menterjemahkan  konsep ideal tersebut menjadi sebuah kenyataan sehari-hari.

Biasanya banyak alasan yang dikemukakan, mengapa kondisi lembaga pendidikannya  tidak terawat. Alasan itu misalnya, karena keterbatasan dana, tenaga yang tersedia tidak mencukupi, dan bahkan sarana dan prasarana tidak tersedia, dan lain-lain. Untuk menutupi kekurangannya, pimpinan lembaga pendidikan pada umumnya lebih suka mencari   berbagai kesalahan pihak lain daripada berusaha mendapatkan alternatif  jalan keluar dari problem yang dihadapi itu.

Dalam diskusi itu, saya menceritakan bahwa pada fase awal saya memimpin lembaga pendidikan Islam, ——ketika itu bernama STAIN Malang,  apa saja saya lakukan mulai  hal yang amat kecil, misalnya memberi contoh bagaimana menyapu dan atau membersihkan halaman dan kebun, hingga menata kursi di setiap kelas. Rupanya staf tingkat bawah perlu diberi contoh tentang bagaimana kerja yang seharusnya dilakukan. Mereaka itu sekedar membersihkan lantai, menjaga keamanan, merawat kebun dan sejenisnya, ternyata masih harus diberi contoh dan b imbingan. Mereka tidak cukup hanya diperintah dan apalagi  hanya sekedar diberi pedoman tertulis dalam  bentuk makalah, misalnya.

Kekurangan para pemimpin di kebanyakan  lembaga pendidikan Islam, menurut hemat saya adalah dalam hal  memberi contoh, arahan,  dan juga kontrol secara terus menerus. Rupanya dalam hal yang sangat sederhana pun,  kebanyakan orang masih perlu dipimpin.  Oleh karena itu, tatkala  lembaga pendidikan Islam diharapkan semakin maju, maka tidak cukup pimpinannya hanya memberikan arahan, pedoman dan buku petunjuk atau  mengajak rapat.  Lebih penting dari itu adalah memberikan contoh, bimbingan, dan ketauladanan secara sempurna.

Gambaran tersebut merupakan peran strategis yang harus dilakukan oleh pemimpin lembaga pendidikan Islam. Pimpinan  lembaga pendidikan, ——-apalagi tatkala masih berada pada fase awal kepemimpinannya, tidak cukup  sekedar memberikan perintah, komando dan arahan. Cara seperti itu tidak akan menghasilkan  perubahan  yang sebenarnya. Namun  sementara orang,  mungkin menganggpnya cara  seperti itu tidak masuk akal,  hingga tidak perlu dilakukan oleh pemimpin lembaga pendidikan Islam.  Akan tetapi itulah cara strategis  untuk  menggerakkan para bawahan atau staf.

Terkait dengan hal tersebut, setiap membicarakan tentang kepemimpinan, saya selalu teringat hadits nabi yang mengatakan bahwa : ajarilah anak-anakmu tentang tiga hal, yaitu berenang, berkuda dan memanah. Berkuda selalu saya maknai memimpin orang. Kuda adalah jenis binatang yang amat sulit digembala atau diatur. Binatang ini hanya mau diajak atau diarahkan ke tempat tertentu, manakala penggembalanya tepat dalam mengambil posisi, yaitu berada di depan, di samping atau kuda itu dinaiki.

Pengembala kuda yang  mengambil posisi dibelakang, dan memaksanya  untuk berlari, maka ia akan disepak olehnya dengan  kedua kakinya sekaligus.  Karakter manusia rupanya mirip kuda. Oleh karena itu, tatkala mengajak atau memerintah orang,  maka harus  memposisikan diri di depan, sebagaimana diingatkan   oleh rasulullah : ibda’ binafsika.

Pemimpin lembaga pendidikan Islam akan berhasil manakala mereka  itu benar-benar bersedia memberikan contoh, bimbingan,  ketauladan dan bahkan  bersedia memulai dari dirinya sendiri. Lembaga pendidikan Islam  yang tidak maju biasanya disebabkan oleh karena,  pemimpinnya hanya memberi konsep, nilai-nilai, pedoman dan tata tertib dan  sebaliknya kurang memberikan  contoh atau ketauladanan yang diperlukan. Wallahu a’lam. (uin-malang.ac.id)

Tentang saepudin

Anda boleh mempublikasikan kembali tulisan di atas pada website atau blog dengan catatan : 1. Anda harus mencantumkan sumber tulisan dengan link aktif menuju https://saepudinonline.wordpress.com 2. Anda tidak mengubah baik sebagian atau pun keseluruhan tulisan TERMASUK SEMUA LINK YANG ADA DI DALAM ARTIKEL harus tetap ada dan aktif. Mari kita saling menghargai sebuah karya... Terima kasih atas kunjungannya. Mohon beri komentar atau saran untuk menyempurnakan website ini. Salam sukses selalu..
Pos ini dipublikasikan di Artikel Pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s