Mengapa Lembaga Pendidikan Perlu Dipasarkan?

Salah satu pertanyaan yang sering dilontarkan sekarang ini adalah apakah lembaga pendidikan perlu dipasarkan? Bukankah lembaga pendidikan adalah lembaga sosial yang harusnya tidak berorientasi profit? Bolehkah lembaga pendidikan mengambil keuntungan? Dan berbagai pertanyaan lain seputar industrialisasi dunia pendidikan. Sebelum menjawab berbagai pertanyaan di atas, alangkah baiknya melihat  perkembangan terkini dari berbagai bidang terkait dengan dunia pendidikan.

Pertama, globalisasi yang juga terasa akibatnya dalam dunia pendidikan. Jika sebelumnya kalau orang ingin memperoleh gelar dari universitas luar negeri harus belajar penuh di sana, sekarang ini sudah banyak universitas di Indonesia yang melakukan kerjasama dengan berbagai universitas di luar negeri yang memungkinkan mahasiswanya menghasilkan gelar ganda (double degree) dari universitas di dalam dan luar negeri. Program ini biasanya dilakukan melalui perkuliahan di dalam negeri selama beberapa semester, dan 1 atau 2 tahun berikutnya mengikuti perkuliahan di luar negeri. Dengan demikian, biaya perkuliahan menjadi lebih murah.

Efek lain dari globalisasi adalah menjamurnya berbagai sekolah, kursus dan playgroup yang merupakan waralaba (franchise) dari luar negeri. Kita bisa lihat misalnya Montessori, NIIT, Informatics, dan berbagai sekolah lain. Mereka mengambil sistem pendidikan, materi dan modul pengajaran dari induknya (prinsipal) di berbagai negara dan mengadopsinya di Indonesia. Model lain yang juga marak adalah mengambil sistem pendidikan beserta modul dan materi pengajarannya, tetapi tetap memakai nama lokal. Contoh kasus ini adalah Sekolah Pelita Harapan dan beberapa sekolah lain yang memakai kurikulum dan metode dari IB World, sebuah metode pendidikan internasional.

Perkembangan kedua, adalah dari sisi teknologi, terutama Teknologi Informasi yang berkembang semakin pesat. Adanya Teknologi Informasi memungkinkan pola belajar jarak jauh yang semakin nyaman (e-Learning). Mahasiswa tinggal melihat berbagai materi yang diletakkan di website, melakukan diskusi kelompok juga di website, dan juga mengerjakan berbagai tugas-tugas melalui website. Fasilitas internet memungkinkan orang belajar dari mana saja tanpa harus tatap muka di kelas. Walaupun tentu saja dalam tahap tertentu masih dibutuhkan kegiatan tatap muka di kelas.

Perkembangan lain yang juga perlu dicermati adalah beberapa universitas negeri sekarang ini statusnya sudah diubah menjadi Badan Usaha. Akibatnya, mereka harus mencari sendiri sumber-sumber pembiayaan bagi operasional universitas. Karena itu, mau tidak mau universitas sekarang ini memperhitungkan dengan seksama masalah arus kas (cash flow), profitabilitas, dan lain-lain agar operasional organisasi tetap berjalan.

Selain waralaba asing, di Indonesia sekarang ini juga tumbuh dengan pesat berbagai waralaba pendidikan ataupun kursus yang asli Indonesia. Sebut saja Primagama, Ganesha, dan Sony Sugema yang merupakan kegiatan kursus pelajaran di sekolah, Purwacaraka Music School, Al-Azhar, Sanggar Kegiatan Bobo, dan berbagai waralaba lokal yang lain. Tentu tidak bisa dilupakan berbagai kursus bahasa Inggris yang dirintis oleh LIA yang sekarang ini berkembang pesat di berbagai daerah di Indonesia.

Melihat perkembangan pendidikan di Indonesia, tentu saja tidak bisa dipisahkan dari tumbuhnya berbagai sekolah unggulan, baik yang dikelola oleh Pemerintah (Sekolah Negeri) maupun swasta. Sekolah-sekolah unggulan ini membedakan diri dari yang lain dengan berbagai program pendidikan dan pengajaran yang berkualitas, fasilitas sarana dan prasarana pendidikan yang sangat memadai, dan penguasaan bahasa asing yang baik. Namun demikian, di sisi lain biasanya biaya untuk masuk sekolah unggulan semacam ini, dan biaya bulanan yang harus dikeluarkan siswa juga sangat mahal.

Yang menarik adalah, bahwa walaupun sekolah-sekolah unggulan ini menetapkan tarif yang mahal dibandingkan sekolah sejenis, tetapi tetap saja diminati masyarakat. Ironisnya, di beberapa daerah, beberapa sekolah terpaksa ditutup karena kekurangan murid.

Tumbuhnya berbagai sekolah dan universitas swasta yang terus bertambah dalam berbagai jurusan juga menjadi perkembangan menarik dalam dunia pendidikan. Jika dulu hanya sedikit universitas misalnya yang menyelenggarakan satu program atau jurusan tertentu, sekarang ini bahkan di universitas di daerahpun sudah menyelenggarakan program tersebut.

Terakhir, program otonomi daerah membuat setiap daerah berlomba-lomba untuk mengembangkan SDM yang dimilikinya agar bisa bersaing dengan daerah lain. Dan salah satu strategi yang digunakan adalah di samping mengirimkan putra-putri daerah ke lembaga pendidikan yang berkualitas, juga dengan mendirikan lembaga pendidikan di daerah masing-masing. Dengan demikian, manfaatnya buat daerah akan lebih terasa karena semakin banyak menampung putra daerah untuk belajar ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan lebih berkualitas.

Berbagai fenomena di atas mempunyai beberapa implikasi yang mendorong percepatan pendidikan sebagai sebuah industri. Dari sisi pelaku dunia pendidikan, sekarang ini dituntut untuk lebih meningkatkan kualitas pendidikan dari segala sisi. Karena sekarang ini persaingan menjadi semakin ketat dengan tumbuh suburnya lembaga pendidikan di lingkungan sekitar.

Dengan persaingan yang semakin ketat, mau tidak mau pengelola pendidikan harus berupaya dengan keras agar memberikan layanan yang terbaik. Karena, jika tidak, konsumen akan dengan mudah mencari lembaga pendidikan lain yang sejenis jika dirasa lebih menguntungkan di sana.

Dari sisi konsumen, sekarang ini dengan semakin banyaknya penawaran dari lembaga pendidikan, merupakan dua sisi yang terkadang sulit. Di satu sisi memudahkan konsumen untuk memilih lembaga mana yang sesuai, tetapi di sisi lain, konsumen juga kesulitan menentukan karena terkadang tidak memiliki informasi yang cukup tentang lembaga tersebut.

Tidak bisa dipungkiri, dengan berbagai perkembangan di atas, pendidikan sekarang ini sudah mengarah pada proses industrialisasi. Dunia pendidikan tidak bisa lagi dianggap sebagai lembaga sosial, tetapi harus diperlakukan sebagai industri yang harus dikelola secara profesional. Karena, dengan semakin ketatnya persaingan, lembaga pendidikan akan ditinggalkan konsumen jika dikelola seadanya.

Pemasaran adalah strategi atau cara bagaimana melakukan berbagai aktifitas agar terjadi pertukaran (exchange) antara produsen dengan konsumen. Dalam hal pendidikan, pemasaran mengatur strategi dan cara agar konsumen mau mengeluarkan uang yang mereka miliki untuk menggunakan berbagai jasa yang disediakan lembaga pendidikan.

Lalu, bagaimana memasarkan pendidikan agar tetap diminati konsumen? Apa saja yang perlu diperhatikan oleh pengelola pendidikan? Bagaimana strategi implementasinya di lapangan?

Untuk bisa memasarkan pendidikan dengan baik, harus dimulai dari visi, misi, dan tujuan yang jelas lembaga pendidikannya ingin diarahkan ke mana. Visi, misi dan tujuan ini biasanya harus dimulai dari kepala atau pimpinan sekolah, yang kemudian ditransfer ke pengelola, guru-guru, dan siswa/mahasiswa di lembaga tersebut. Dengan arah yang sama, sebuah lembaga pendidikan akan lebih mudah untuk maju dan berkembang.

Selanjutnya, pengelola pendidikan juga harus menganalisis berbagai faktor eksternal yang mungkin berpengaruh dengan lembaganya. Faktor-faktor eksternal tersebut yang pertama adalah Lingkungan Makro. Lingkungan makro di sini terdiri dari sisi perkembangan penduduk dengan segala sifat dan karakternya. Jika kita ingin mendirikan sebuah Sekolah Dasar misalnya, harus dilihat apakah jumlah anak-anak usia sekolah dasar cukup banyak di sekolah tersebut, daya belinya ada, dan lain-lain.

Faktor lain dari lingkungan makro adalah teknologi, di mana kita juga harus melihat berbagai perkembangan teknologi yang mungkin bisa diterapkan di lembaga pendidikan kita. Di beberapa universitas, sekarang ini administrasi nilai dan kemahasiswaan sudah terintegrasi secara maksimal, sehingga mahasiswa bisa melihat nilai melalui sms ataupun website. Nah, nilai tambah apa yang bisa dimanfaatkan oleh lembaga pendidikan melalui teknologi juga harus dipikirkan.

Faktor berikutnya dari lingkungan makro adalah aturan Pemerintah. Di Indonesia termasuk unik, karena aturan pemerintah sering berubah dengan perubahan menteri. Karena itu, antisipasi berbagai aturan ini diperlukan agar lembaga pendidikan bisa fleksible dalam mengadaptasi berbagai perubahan aturan.

Setelah lingkungan makro, lingkungan eksternal lain yang perlu diperhatikan adalah peta industri dan persaingan. Lembaga pendidikan perlu memetakan siapa pesaing-pesaing mereka, baik yang berpotensi untuk bersaing langsung maupun tidak langsung. Pemetaan kondisi ini akan menghasilkan kekuatan dan kelemahan pesaing kita, sekaligus melihat aspek mana yang bisa dijadikan sebagai keunggulan bersaing.

Setelah melihat kondisi persaingan, lembaga pendidikan juga perlu memahami konsumen atau calon siswa/mahasiswa. Pemahaman tentang konsumen, nilai-nilai yang mereka anut, dan nilai tambah seperti apa yang diinginkan mereka akan sangat membantu lembaga pendidikan dalam mendisain program-program pendidikan dan pengajaran yang dibutuhkan.

Untuk bisa memberikan nilai tambah, lembaga pendidikan harus terlebih dahulu mengetahui selera dan kebutuhan konsumen secara baik. Biasanya dilakukan survey ataupun wawancara dengan calon-calon konsumen mengenai apa harapan dan keinginan mereka tentang lembaga pendidikan.

Lembaga pendidikan biasanya kesulitan untuk menentukan apakah lembaga pendidikannya diperuntukkan bagi masyarakat kelas menengah atas atau untuk menengah bawah. Lembaga pendidikan sejak awal harus menentukan lembaganya diarahkan untuk kelas mana. Karena ini menentukan layanan seperti apa yang akan disampaikan, mengingat untuk kelas menengah atas biasanya lebih peduli dengan kualitas dalam proses belajar mengajar, sementara untuk menengah bawah lebih peduli dengan harga. Tentu saja kedua hal itu sulit dicampur adukkan, terutama imbasnya nanti dalam hal penentuan berapa harga yang ingin dibebankan kepada siswa dan layanan seperti apa yang akan diterima mereka.

Dengan menentukan target market yang dituju, lembaga pendidikan bisa memberikan satu nilai tambah yang menjadi pembeda dibandingkan dengan para pesaingnya. Nilai tambah inilah yang disebut sebagai differensiasi. Dengan differensiasi yang kuat, bisa menjadi senjata dalam menghadapi berbagai persaingan.

Membangun differensiasi bisa dari berbagai segi. Kalau mempunyai modal keuangan yang kuat, bisa membangun differensiasi dari fasilitas sarana dan prasarana yang baik dibandingkan dengan pesaing. Fasilitas merupakan salah satu yang mudah dilihat konsumen sebagai nilai tambah. Differensiasi juga bisa dibangun dari SDMnya mulai dari guru-guru hingga pengelolanya. Guru-guru yang profesional misalnya, akan menjadi nilai tambah tersendiri di mata konsumen. Selain itu, differensiasi juga bisa dibangun melalui proses interaksi belajar mengajar yang menyenangkan. Artinya, setiap lembaga pendidikan harusnya mampu membangun differensiasi yang bisa menjadi keunggulan bersaing. Tinggal bagaimana melihat dari faktor-faktor apa yang dimiliki oleh lembaga tersebut yang bisa ditonjolkan.

Setelah peta kondisi eksternal sudah didapatkan, lembaga pendidikan tinggal memikirkan kondisi internal strategi apa yang akan dilakukan untuk mengelola lembaga pendidikan. Pola pengelolaan strategi internal ini, dalam ilmu pemasaran sering disebut sebagai strategi 4 P yaitu mengelola produk, harga, saluran distribusi dan promosi (product, price, place of distrbution, promotion).

Produk-produk lembaga pendidikan bisa dibagi menjadi dua bagian; yaitu produk utama dan produk pendukung. Produk utama adalah kegiatan belajar mengajar dengan segala prosesnya. Karena bukan barang jadi, proses kegiatan belajar mengajar adalah produk utama yang melibatkan emosi dan perasaan dari peserta didik sebagai konsumen. Karena itu, agar produk utama ini baik harus diciptakan pengalaman belajar mengajar yang menyenangkan.

Menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan ini penting untuk memberikan apa yang disebut sebagai manfaat emosional (emotional benefit) yang akan terus menerus diingat oleh peserta didik. Emotional benefit akan semakin tinggi jika keterlibatan peserta didik semakin tinggi dan menyenangkan. Dampaknya adalah kalau peserta didik tersebut ditanya, baik sekarang ataupun di masa mendatang, akan memberikan referensi yang baik kepada orang-orang yang bertanya. Efek promosi word of mouth semacam ini akan menjadi saluran promosi yang sangat efektif di kemudian hari.

Selain produk utama, produk lain yang bisa ditawarkan adalah produk pendukung yang juga bisa beragam variasinya. Mulai dari les dan tambahan pelajaran, kegiatan ekstra kurikuler, dan berbagai kegiatan ataupun program lain yang mendukung. Produk pendukung ini juga harus direncanakan secara baik karena akan memberikan nilai tambah buat peserta didik.

Setelah menentukan produk apa yang ingin ditawarkan, selanjutnya adalah menentukan berapa harga yang harus dibayar oleh peserta didik dalam bentuk uang masuk, dan juga bayaran bulanannya. Prinsip utama dalam menentukan harga adalah menghitung keseluruhan biaya yang diperlukan untuk biaya gedung dan pemeliharaannya, biaya pengajar, biaya pengelola, dan berbagai biaya lain. Dari situ, tinggal ditambahkan berapa persen laba yang ingin diperoleh untuk kepentingan pengembangan dan penghitungan berapa tahun akan balik modal. Hasil penambahan itu kemudian dibagi per siswa sehingga didapatkan berapa siswa harus membayar dalam bentuk uang pangkal maupun uang bulanan.

Dalam hal distribusi, sebagai sebuah jasa, lebih penting bagi lembaga pendidikan untuk menentukan lokasi yang strategis yang bisa dicapai oleh peserta didik. Dari sisi lokasi, akses tranportasi ke sekolah merupakan faktor utama yang harus diperhatikan. Akses yang mudah akan membantu peserta didik merasakan kenyamanan dalam belajar mengajar.

Salah satu faktor yang penting dalam pemasaran sebagai P yang terakhir dari 4P yaitu promosi. Promosi adalah usaha-usaha sadar untuk melakukan sosialisasi, penerangan, dan pemberitahuan kepada masyarakat tentang berbagai informasi, yang biasanya mengenai berbagai produk yang ditawarkan.

Aktivitas promosi melibatkan berbagai bentuk dan variasi yang sangat beragam. Tinggal bagaimana para pengelola pendidikan melakukan berbagai promosi kreatif sesuai dengan kebutuhan dan anggaran promosi yang disediakan.

Bentuk promosi yang paling tradisional adalah iklan. Iklan adalah pemasangan informasi produk di berbagai media dan penerbitan mulai dari koran, majalah, tabloid, televisi, dan juga radio. Iklan memang efektif menjangkau khalayak yang luas, tetapi dari sisi biaya memang membutuhkan anggaran yang besar. Biasanya, iklan dipasang oleh sekolah-sekolah ataupun universitas yang sudah mempunyai nama besar ataupun menampung jumlah siswa/mahasiswa yang cukup banyak sehingga bisa menutup biaya pemasangan iklan tersebut.

Jika terasa bahwa biaya iklan di media massa cukup besar, bisa dicoba bentuk lain yaitu dengan brosur, leaflet, dan juga spanduk yang dipasang di sekitar wilayah di mana calon siswa/mahasiswa berada. Dengan demikian, informasi lengkap tetap bisa didapatkan oleh target konsumen kita.

Cara lain yang efektif adalah melalui promosi dari mulut ke mulut (word of mouth) di mana satu orang memberikan penjelasan kepada orang lain karena merasa mendapatkan manfaat yang baik dari lembaga pendidikan di mana ia atau anaknya, atau familinya mengikuti pendidikan. Karena itu penting sekali membuat suasana belajar mengajar yang menyenangkan sehingga peserta didik ataupun orang tuanya dengan senang hati memberikan penjelasan secara baik. Promosi ini sangat efektif karena biasanya orang lebih percaya kepada apa yang dikatakan oleh saudara ataupun teman-teman yang sudah merasakan terlebih dahulu.

Untuk lembaga pendidikan semacam sekolah, menyelenggarakan sebuah kegiatan (event) akan juga menjadi alat promosi yang efektif. Kegiatan perlombaan, bazaar, dan berbagai kegiatan lain baik yang berhubungan dengan kegiatan belajar mengajar ataupun tidak jika dilakukan secara positif akan sangat membantu orang untuk lebih mempercayai akan kualitas lembaga pendidikan dimaksud. Kepercayaan yang dibangun secara terus menerus ini pada akhirnya akan menimbulkan minat untuk mengikuti program dan pendidikan yang diajarkan.

Pada akhirnya, aktifitas promosi apapun dalam lembaga pendidikan tidak bisa berjalan efektif jika secara internal tidak memperhatikan faktor kualitas sebuah lembaga pendidikan. Sebagai sebuah jasa, kualitas lembaga pendidikan menurut Parasuraman, bisa dilihat dari beberapa aspek.

Aspek pertama adalah dari sisi fisik semacam gedung, laboratorium, perpustakaan, dan berbagai aspek fisik lain yang bisa dilihat secara jelas. Aspek fisik ini penting diperhatikan karena akan memberikan kesan pertama pada orang-orang yang melihatnya. Dengan melihat fisik dari bangunan dan sarana serta prasarana, akan memudahkan orang dalam melakukan suatu penilaian terhadap kualitas pendidikan.

Aspek kedua dari sisi kecepatan tanggap (respons) terhadap berbagai persoalan ataupun pertanyaan dari masyarakatat. Kecepatan dalam menanggapi ini akan membuat nyaman konsumen. Selanjutnya adalah bagaimana lembaga pendidikan melihat kebutuhan konsumen dari sisi pandang mereka. Dengan melihat dari sisi pandang konsumen, lembaga pendidikan akan lebih mengetahui tingkat kebutuhan dan harapan mereka.

Dan sebagai lembaga pendidikan yang sangat terkait dengan orang, faktor kualitas SDM baik pengelola maupun pengajar sangat menentukan kualitas belajar mengajar secara keseluruhan. Sebaik apapun fasilitas yang dimiliki, tanpa dibarengi dengan kemampuan dan pengetahuan dari staf pengajar dan pengelola, maka hasilnyapun tidak akan bisa berdampak dengan baik. Akan tetapi jika dibarengi dengan kemampuan yang baik dari pengelola dan staf pengajar, hasilnya akan lebih maksimal. (Akbar Zainudin. edukasi.kompasiana.com)

Tentang saepudin

Anda boleh mempublikasikan kembali tulisan di atas pada website atau blog dengan catatan : 1. Anda harus mencantumkan sumber tulisan dengan link aktif menuju https://saepudinonline.wordpress.com 2. Anda tidak mengubah baik sebagian atau pun keseluruhan tulisan TERMASUK SEMUA LINK YANG ADA DI DALAM ARTIKEL harus tetap ada dan aktif. Mari kita saling menghargai sebuah karya... Terima kasih atas kunjungannya. Mohon beri komentar atau saran untuk menyempurnakan website ini. Salam sukses selalu..
Pos ini dipublikasikan di Artikel Pendidikan dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s