Lima Cara Menulis Slogan Efektif

Membuat slogan merek maupun produk tidaklah gampang. Ada beberapa hal yang patut diperhatikan seperti di bawah ini:

Pertama, slogan diberi ritme, rima, maupun bunyi.

Dengan ketiga hal tersebut, slogan bukan sekadar rangkaian kata-kata maupun kata-kata mati dan tidak berbunyi. Intinya, slogan ini menyentuh salah satu indera manusia, khususnya pendengaran. Dengan adanya ritme dan rima, slogan menjadi sesuatu yang tak terlupakan karena memiliki sesuatu (baca: bunyi yang khas). Contohnya slogan Bounty, yang berbunyi “The quilted quicker picker upper.”

Kedua, tekankan manfaat utama.

Slogan seharusnya menekankan pesan utama dari diferensiasi dari produk maupun merek. Pesan utama ini harus diangkat dengan tegas. Tidak sebaliknya, berkutat dengan kata-kata indah, tapi pesan utama tidak sampai kepada audiens. Slogan merupakan impresi pertama audiens. Sekali tersentuh, audiens tidak bakal melupakannya. Contohnya slogan Miller Lite yang berbunyi “Great taste, less filling.”

Ketiga, sampaikan komitmen perusahaan.

Mungkin perusahaan tidak menjual produk maupun layanan yang unik. Namun, slogan tetap diperlukan untuk membedakan dengan perusahaan kompetitor. Slogan didedikasikan untuk layanan pelanggan dan secara khusus memberikan jaminan kualitas dan kepuasan mereka. Misalnya, ada perusahaan lain yang menjual produk yang sama dengan perusahaan kita, sampaikan sesuatu yang berbeda dengan jujur yang akhirnya menimbulkan kepercayaan dalam diri pelanggan. Coontohnya slogan Avis yang berbunyi “We’re number two, so we try harder.”

Keempat, jujur.

Slogan senantiasa mencerminkan bisnis yang ada. Sebab itu, slogan yang hiperbolis bukanlah slogan yang efektif mengingat audiens sekarang cukup sensitif dan peka dengan situasi yang sedang menimpa perusahaan. Audiens sekarang jauh lebih well-informed karena saling terhubung dan dengan gampang mengakses informasi. Sebab itu, bersikap jujur dan realistik menjadi fundamental. Tentu, dengan menunjukkan cara yang elegan dan cerdas. Contohnya slogan Visa yang berbunyi “It’s everywhere you want to be.”

Kelima, pendek.

Slogan yang berdaya bukanlah slogan yang berpanjang kata dan berbelit-belit. Buatlah rangkaian kata yang pendek dengan pilihan kata yang tepat. Idealnya, tidak lebih dari enam sampai delapan kata. Singkat membuat slogan mudah diingat. Contohnya slogan Apple yang berbunyi “Think different.”

Namun, sebagai catatan di era New Wave, membangun karakter merek jauh lebih penting daripada membangun brand image maupun pencitraan. Kelima langkah tersebut sudah baik, namun tanpa disertai dengan pembangunan karakter dari merek dan produk itu sendiri, akan sia-sia saja. “Brand without character is nothing.”

Sumber: Inc.com | Sumber Artikel: the-marketeers.com

Tentang saepudin

Anda boleh mempublikasikan kembali tulisan di atas pada website atau blog dengan catatan : 1. Anda harus mencantumkan sumber tulisan dengan link aktif menuju https://saepudinonline.wordpress.com 2. Anda tidak mengubah baik sebagian atau pun keseluruhan tulisan TERMASUK SEMUA LINK YANG ADA DI DALAM ARTIKEL harus tetap ada dan aktif. Mari kita saling menghargai sebuah karya... Terima kasih atas kunjungannya. Mohon beri komentar atau saran untuk menyempurnakan website ini. Salam sukses selalu..
Pos ini dipublikasikan di Merek dan Brand, Tips Bisnis, Tips dan Trik. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s