Home-schooling, Jenis & Subyek Pengajarannya

Menurut data yang dihimpun dari Direktorat Pendidikan Nasional tahun 2011, ada sekitar 600 peserta homeschooling di Indonesia. Sebanyak 83,3 % atau sekitar 500 orang mengikuti homeschooling majemuk dan komunitas, sedangkan sebanyak 16,7 %, atau sekitar 100 orang,mengikuti homeschooling tunggal.

Namun pada gilirannya banyak orang tua yang ingin memberikan homeschooling kepada anaknya tapi tidak tahu apa yang harus dilakukan karena berbagai sumber yang simpang siur.

Tetapi paling tidak dari artikel ini akan mendapat sedikit gambaran tentang beberapa macam homeschooling dan bagaimana menentukan subyek pembelajaran untuk anak.

Homeschooling dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu:

Homeschooling tunggal

Adalah homeschooling yang dilaksanakan oleh orang tua dalam suatu keluarga tanpa bergabung dengan yang lainnya. Biasanya homeschooling jenis ini diterapkan karena adanya tujuan atau alasan khusus yang tidak dapat diketahui atau dikompromikan dengan komunitas homeschooling lainnya. Tetapi tanpa alasan dan tujuan khusus homeschooling tunggal juga bisa diterapkan di rumah.

Homeschooling majemuk

Adalah homeschooling yang dilaksanakan oleh dua keluarga atau lebih untuk kegiatan tertentu sementara kegiatan pokok tetap dilakukan oleh orang tua masing-masing. Alasannya terdapat kebutuhan-kebutuhan yang dapat dikompromikan oleh beberapa keluarga untuk melakukan kegiatan bersama. Contohnya kurikulum dari konsorsium, kegiatan olah raga (misalnya keluarga atlit tenis), keahlian musik/ seni, kegiatan sosial dan kegiatan keagamaan.

Komunitas homeschooling

Adalah gabungan dari beberapa homeschooling majemuk yang menyusun dan menentukan silabus, bahan ajar, kegiatan pokok (olah raga, musik/ seni, dan bahasa), sarana/ prasarana, dan jadwal pembelajaran. Komitmen penyelenggaraan antara orang tua dan komunitasnya kurang lebih 50:50.

Subyek Pengajaran

Dalam menjalankan homeschooling yang paling memusingkan orang tua adalah menentukan subyek apa yang perlu diajarkan ke anak 15 menit-1 jam per-hari itu? Matt James, seorang dokter, homeschool 4 anak dan penulis buku “homeschooling odyssey” memberi tips untuk memberikan subyek yang kira-kira tidak bisa dikuasai anak secara alami. Misalnya, grammar, spelling, dan aritmatika.

Garis bawahnya adalah ‘yang kira-kira tidak bisa dikuasai anak’. Jika hal tersebut menjadi prioritas maka setiap anak akan mendapat subyek yang berbeda-beda.. Misalnya, Ada anak yang bisa belajar matematika dengan sendirinya, ada anak yang perlu bantuan.

Pertanyaan berikutnya yang sering muncul adalah Bagaimana dengan pelajaran agama? Jika memperlakukan agama sebagai “bagian dari keseharian” sepertinya yang pernah ditulis Pak Yudi Arianto dalam note-nya, maka “pelajaran agama” tidak perlu dimasukkan dalam “subyek” yang perlu diajarkan ke anak sebagai “formal instruction”.

Keluarga lain mungkin perlu memasukkannya kedalam setiap subyek yang lain, sehingga jadi satu kesatuan. Mengenai hafalan alquran, misalnya sharing lain dari Mbak Ratu Vanda, hafalan al-quran dilakukan 10-15 menit sehari selesai solat magrib dengan cara menyenangkan ternyata cukup efektif.

Yang perlu jadi catatan adalah, anak belajar sebagaimana orang dewasa belajar, diantaranya yaitu, untuk meng-upgrade diri, memahami bagaimana dunia bekerja, untuk mengenal Tuhannya dan lingkungannya lebih baik. Belajar tidak untuk menghadapi ujian atau tes.

(amanyaulady.wordpress.com/ felly@oktomagazine.com)

Tentang saepudin

Anda boleh mempublikasikan kembali tulisan di atas pada website atau blog dengan catatan : 1. Anda harus mencantumkan sumber tulisan dengan link aktif menuju https://saepudinonline.wordpress.com 2. Anda tidak mengubah baik sebagian atau pun keseluruhan tulisan TERMASUK SEMUA LINK YANG ADA DI DALAM ARTIKEL harus tetap ada dan aktif. Mari kita saling menghargai sebuah karya... Terima kasih atas kunjungannya. Mohon beri komentar atau saran untuk menyempurnakan website ini. Salam sukses selalu..
Pos ini dipublikasikan di Homeschooling, PAUD. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s