Klasifikasi Reksa Dana di Indonesia

Secara umum, reksa dana dibagi menjadi reksa dana pasar uang, pendapatan tetap, campuran dan saham. Namun seiring dengan berkembangnya industri pasar modal di Indonesia, jenis reksa dana semakin banyak dan bervariasi. Reksa dana yang baru memiliki karakteristik yang berbeda dengan reksa dana konvensional sehingga rekomendasi berdasarkan profil risiko dan horison investasi menjadi kurang relevan. Seperti apakah klasifikasi reksa dana yang ada di Indonesia saat ini.

Jika dilihat dari sejarah perkembangan reksa dana di Indonesia, jenis reksa dana yang berkembang pertama kali selain reksa dana konvensional adalah Reksa Dana Terstruktur (Structured Fund). Reksa Dana terstruktur ini terdiri dari 3 produk yaitu Reksa Dana Indeks, Reksa Dana Terproteksi dan Reksa Dana Dengan Penjaminan. Salah satu keunikan reksa dana ini adalah adanya peraturan yang mengharuskan pencantuman nama indeks, terproteksi dan penjaminan dalam penamaan reksa dananya. Selain itu adalah lagi jenis reksa dana yang lain seperti REITs (Real Estate Investment Trust), ETF dan Reksa Dana Penyertaan Terbatas.

Reksa Dana Terstruktur (Structured Fund)

Reksa Dana Indeks (Index Fund) adalah reksa dana yang portofolio investasinya mengacu kepada indeks tertentu. Indeks yang dijadikan acuan bisa berupa indeks saham ataupun indeks obligasi. Perbedaan antara reksa dana indeks dengan reksa dana konvensional adalah reksa dana indeks mengambil strategi investasi pasif dengan menghasilkan tingkat return yang setara dengan return indeks yang ditirunya. Sementara, reksa dana konvensional mencoba mengalahkan indeks yang menjadi acuan dengan menerapkan strategi investasi aktif.

Reksa Dana Terproteksi (Capital Protected Fund) adalah reksa dana yang berusaha memproteksi nilai investasi awal investasi investor. Mekanisme proteksi umumnya dilakukan dengan membeli instrumen surat hutang (obligasi) dan memegangnya hingga jatuh tempo (buy and hold). Sehingga kecuali obligasi yang bersangkutan mengalami gagal bayar, maka nilai investasi awal akan terjaga seutuhnya. Jenis reksa dana ini merupakan jenis reksa dana dengan dana kelolaan terbesar kedua setelah reksa dana saham. Banyak investor institusi yang memanfaatkan jenis reksa dana sebagai fasilitas penghematan pajak obligasi karena persentase pengenaan pajak yang lebih rendah (5% atas reksa dana vs 15% atas investor biasa).

Reksa Dana Dengan Penjaminan (Capital Guaranteed Fund) adalah reksa dana yang menggaransi nilai investasi awal investor. Mekanisme garansi dilakukan dengan melakukan perjanjian dengan guarantor. Yang bertindak sebagai guarantor adalah perusahaan asuransi. Meski sudah diatur dari peraturan sejak tahun 2004, sampai saat ini belum ada Manajer Investasi yang menggarap jenis produk ini. Rumitnya mekanisme penjaminan dan berkurangnya potensi return akibat premi asuransi ditengarai merupakan penyebab kurang berkembangnya produk ini.

Dari ketiga Structured Fund, hanya Index Fund yang bisa ditawarkan terus menerus seperti layaknya jenis reksa dana konvensional. Sementara itu, Capital Protected Fund dan Capital Guaranteed Fund memiliki masa penawaran yang terbatas.

Exhange Traded Fund (ETF)

Selanjutnya berkembang pula jenis reksa dana yang baru yaitu reksa dana yang unit penyertaannya dapat diperdagangkan di bursa. Di luar negeri, jenis reksa dana ini terkenal dengan sebutan ETF (Exchange Traded Fund). Reksa dana ini merupakan pengembangan dari jenis reksa dana indeks. Dengan prinsip yang hampir sama dengan reksa dana indeks, perbedaan utamanya adalah ETF dapat dibeli melalui pasar sekunder melalui broker atau langsung melalui Manajer Investasi. Sementara reksa dana indeks dan reksa dana konvensional lainnya hanya dapat dibeli melalui Manajer Investasi Langsung.

Karena likuiditas merupakan salah satu kendala produk ini, maka dalam ETF dikenal satu pihak yang disebut dengan Dealer Partisipan. Dealer Partisipan adalah Anggota Bursa Efek yang menandatangani perjanjian dengan Manajer Investasi penerbit ETF untuk menjadi market maker. Yang dimaksud dengan market maker adalah pihak yang bersedia membeli atau menjual ETF pada harga yang telah ditentukan sehingga menjadikan instrumen tersebut mudah diperdagangkan (likuid). Mengingat karakteristiknya yang sangat mirip dengan reksa dana indeks, sebaiknya ETF dapat digolongkan menjadi reksa dana terstruktur.

Reksa Dana yang mendukung Sektor Riil

Investasi tidak selalu harus di pasar modal. Dalam rangka perluasan pasar, BAPEPAM-LK juga mengeluarkan peraturan yang memperbolehkan reksa dana sebagai salah satu alternatif pembiayaan sektor riil. Jenis reksa dana yang memungkinkan pembiayaan bagi sektor riil antara lain:

Dana Investasi Real Estat (DIRE) atau di luar negeri dikenal dengan sebutan Real Estate Investment Trust (REIT). DIRE adalah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan pada aset Real Estat, aset yang berkaitan dengan Real Estat dan atau kas dan setara kas. Jadi jenis reksa dana ini dapat membeli real estate dalam bentuk tanah, bangunan, gedung ataupun saham dan obligasi perusahaan terbuka sepanjang diterbitkan oleh perusahaan berbasis properti.

Jenis reksa dana ini amat berkembang pesat di negera tetangga seperti di Singapura namun masih belum dikembangkan di Indonesia. Salah satu keunikan dari reksa dana ini adalah adanya pihak penilai. Sebab jika aset yang dimiliki reksa dana berbentuk bangunan, tanah atau gedung yang sulit ditaksir nilai pasarnya, maka untuk kepentingan perhitungan NAB dilakukan oleh pihak penilai (appraiser).

Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset (KIK-EBA) atau dikenal dengan Asset Backed Securities (ABS) di luar negeri. KIK EBA secara sederhana adalah reksa dana berbasis aset keuangan seperti surat berharga komersial, tagihan kartu kredit, Kredit Kepemilikan Rumah, Kredit Kepemilikan Kendaraan dan lainnya. Jenis KIK-EBA yang berhasil diterbitkan di Indonesia adalah hasil kerja sama antara PT. Danareksa Investment Management, PT. Sarana Multigriya Financial dan Bank BTN, dimana KIK-EBA ini berbasis KPR yang diterbitkan oleh Bank BTN.

Meski Kontrak Investasi Kolektif (KIK) mengacu kepada reksa dana, namun dalam prakteknya KIK EBA lebih diklasifikasikan sebagai obligasi karena sama-sama memiliki rating dan metode pembayarannya menyerupai obligasi amortisasi. Jika dikembangkan dengan baik, KIK EBA mampu meningkatkan likuiditas perbankan sehingga mampu menyalurkan kredit kepada lebih banyak orang.

Reksa Dana Penyertaan Terbatas (RDPT) adalah reksa dana yang menghimpun dana dari pemodal profesional dan selanjutnya diinvestasi pada portofolio efek. Portofolio efek yang dimaksud disini tidak terbatas pada instrumen pasar modal namun bisa juga pembiayaan terhadap sektor riil. Sedangkan yang dimaksud dengan pemodal profesional adalah investor yang memiliki kemampuan menganalisa risiko reksa dana. Dari sisi keuangan minimum investasi adalah Rp 5 milliar.

Beberapa keunikan dari reksa dana ini adalah jumlah pihak yang terlibat dibatasi paling banyak 49 orang. Manajer Investasi sendiri juga dituntut melakukan penyertaan modal di dalam reksa dana yang dikelola dengan nominal Rp 5 milliar. Karena berinvestasi pada sektor riil, maka penilaian terhadap harga pasar dari aset yang bersangkutan tidak menggunakan metode nilai pasar wajar seperti reksa dana konvensional pada umumnya. Publikasi NAB juga dilakukan setiap 3 bulan sekali.

Reksa Dana Konvensional

Selain contoh di atas, sebetulnya jenis reksa dana konvensional yang terdiri dari jenis saham, campuran, pendapatan tetap dan pasar uang juga perlu klasifikasi yang lebih baik agar memudahkan dalam pengembangan industri. Pengklasifikasikan reksa dana sebaiknya dilakukan dengan membagi reksa dana konvensional menjadi 2 yaitu Reksa Dana Konvensional (Rp dan Dollar) dan Reksa Dana Berbasis Syariah.

Dengan klasifikasi yang jelas, maka regulator dapat mengambil atau membuat kebijakan sesuai dengan industri yang ingin dikembangkan. Misalnya reksa dana dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok pertama sebagai jenis reksa dana untuk pendalaman pasar (market penetration) dan kelompok reksa dana kedua sebagai jenis reksa dana untuk pengembangan pasar (market development). Sebab keahlian dan regulasi yang dibutuhkan untuk kedua jenis reksa dana tersebut amat berbeda. Reksa Dana untuk pendalaman pasar adalah reksa dana yang berbasis Pasar Modal, sementara reksa dana untuk pengembangan pasar adalah reksa dana yang berbasis Sektor Riil.

Reksa dana yang masuk dalam kategori market penetration antara lain Reksa Dana Konvensional baik berbasis US maupun Rupiah, Reksa Dana Syariah, Reksa Dana Terstruktur dan ETF. Sebab reksa dana jenis ini menambah pilihan keragaman investasi bagi para investor. Regulator perlu memperlonggar beberapa aturan dalam pembatasan investasi agar dapat lahir produk yang lebih kreatif namun juga tetap memperhatikan aspek keamanan.

Reksa dana yang masuk kategori market development adalah reksa dana yang berkaitan dengan sektor riil yaitu REIT, KIK-EBA dan Reksa Dana Penyertaan Terbatas. Untuk mendukung sektor ini, regulator perlu memberikan gambaran kepada sektor riil untuk mempertimbangkan reksa dana sebagai salah satu sumber pembiayaan selain sumber konvensional lainnya seperti pinjaman bank, obligasi dan saham.

Demikian artikel ini, semoga dapat menjadi masukan bagi pengembangan industri reksa dana Indonesia.

Sumber: rudiyanto.blog.kontan.co.id

Tentang saepudin

Anda boleh mempublikasikan kembali tulisan di atas pada website atau blog dengan catatan : 1. Anda harus mencantumkan sumber tulisan dengan link aktif menuju https://saepudinonline.wordpress.com 2. Anda tidak mengubah baik sebagian atau pun keseluruhan tulisan TERMASUK SEMUA LINK YANG ADA DI DALAM ARTIKEL harus tetap ada dan aktif. Mari kita saling menghargai sebuah karya... Terima kasih atas kunjungannya. Mohon beri komentar atau saran untuk menyempurnakan website ini. Salam sukses selalu..
Pos ini dipublikasikan di Hukum SBPM. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s